Selasa, 17 November 2009

MEMAHAMI KARAKTERISTIK ANAK SEKOLAH DASAR : "bagaimana seorang guru dapat mengatasi masalah pada murid-muridnya"

Memahami Karakteristik Anak Sekolah Dasar : “Bagaimana Seorang Guru Dapat Mengatasi Masalah pada Murid-muridnya?”

Oleh: Evi Juliyani E (0902966)

Menurut Piaget (1896-1980) dalam Memahami Karakteristik Anak dalam Mengatasi Masalah Belajar Murid di SD, Achmad MK (2009.1),”Anak adalah seorang yang aktif, membentuk atau menyusun pengetahuan mereka sendiri pada saat mereka mengeksplorasi lingkungan dan kemudian tumbuh secara kognitif terhadap pemikiran-pemikiran yang logis.”

Seorang guru akan memandang murid satu dengan murid yang lainnya berbeda. Baik berbeda dalam segi fisik maupun karakteristiknya. Terhadap masing-masing murid, guru yang professional haruslah memahami betul karakteristiknya masing-masing. Agar seorang guru dapat menentukan sikap (apa yang mesti dilakukan) pada murid-muridnya yang berbeda karakteristik ini. Untuk itu para guru maupun khalayak umum terlebih dahulu mengetahui karakteristik anak-anak usia Sekolah Dasar.

Sebagaimana yang dikemukakan Basset, Jacka, dan Logan (1983) dalam Memahami Karakteristik Anak dalam Mengatasi Masalah Belajar Murid di SD, Achmad MK (2009.2), karakteristik anak usia Sekolah Dasar secara umum sebagai berikut :

a. Mereka secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik akan dunia sekitar yang mengelilingi mereka sendiri.

b. Mereka senang bermain dan lebih suka bergembira/riang.

c. Mereka suka mengatur dirinya untuk menangani berbagai hal, mengeksplorasi suatu situasi dan mencobakan usaha-usaha baru.

d. Mereka biasanya tergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana mereka tidak suka mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan-kegagalan.

e. Mereka belajar secara efektif ketika mereka merasa puas dengan situasi yang terjadi.

f. Mereka belajar dengan cara bekerja, mengobservasi, berinisiatif dan mengajar anak-anak lainnya.

Dorongan karakteristik mereka yang disebutkan diatas tidak selamanya mulus (sesuai dengan apa yang mereka inginkan), akan tetapi akan banyak hambatan-hambatan yang menghalangi eksplorasi karakteristik diri mereka. Seperti contoh, setiap murid menginginkan dan akan gembira apabila mereka menjadi juara kelas. Namun, kapasitas kemampuan dan intelektual mereka berbeda-beda. Salah satu dari mereka unggul menjadi juara kelas dan ia akan merasa gembira dan terdorong motivasi belajarnya. Sedangkan yang lain akan merasa kecewa dan ketidakpuasan atas kegagalan-kegagalannya.

Hal ini akan lahir sejumlah permasalahan-permasalahan yang akan dihadapi oleh murid-muridnya.Oleh karena itu, gurulah yang berperan dalam mengarahkan murid-muridnya menghadapi situasi seperti ini. Sebelumnya, kita ketahui dahulu apa itu masalah belajar?

Priyanto (1985) dalam Memahami Karakteristik Anak dalam Mengatasi Masalah Belajar Murid di SD, Achmad MK (2009.5) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan.

Murid-murid pun tidak menginginkan adanya permasalahan, baik itu permasalahan dalam belajar ataupun permasalahan lainnya. Karena bagi mereka permasalahan itu dapat menghambat tujuan yang ingin dicapainya,cita-citanya. Bahkan mempersulit bagi dirinya. Disinilah peran guru dan orang tua untuk mengarahkan anaknya untuk dapat mengatasi masalah yang terjadi pada diri anak, anak didiknya.

Sedangkan secara psikologis menurut Achmad MK (2009.5), belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Belajar ialah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”, menurut Anita E dalam Wool Folk (1995.196) dalam Memahami Karakteristik Anak dalam Mengatasi Masalah Belajar di SD (2009.5).

“Belajar adalah proses tingkah laku (dalam arti luas), ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan.”, menurut Garry dan Kingsley (1970.15) dalam Memahami Karakteristik Anak dalam Mengatasi Masalah Belajar di SD (2009.5).

Dari definisi-definisi yang disebutkan diatas, belajar adalah proses perubahan tingkah laku dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Dari kedua definisi di atas, definisi masalah dan definisi belajar, dapat disimpulkan bahwa masalah belajar adalah kesulitan-kesulitan yang muncul pada diri sendiri (murid) dalam suatu proses perubahan, baik itu perubahan tingkah laku maupun pengetahuan, sebagai hasil interaksi dari lingkungannya.

Masalah-masalah belajar tentunya ada penyebabnya, baik penyebab yang datang dari dalam diri individualnya sendiri maupun dari lingkungannya, mungkin dari orang tuanya, gurunya, ataupun teman sebayanya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Achmad MK (2009.7-8), pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu:

a. Faktor-faktor Internal (faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri), antara lain:

1). Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan (alergi, asma, dan sebagainya).

2). Ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang.

3). Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri (maladjustment), tercekam rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi.

4). Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.

b. Faktor Eksternal (faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu), yaitu berasal dari :

1). Sekolah, antara lain :

a). Sifat kurikulum yang kurang fleksibel.

b). Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru).

c). Metode mengajar yang kurang memadai.

d). Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.

2). Keluarga (rumah), antara lain :

a). Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis.

b). Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya.

c). Keadaan ekonomi.

Kedua factor ini dapat saling mempengaruhi dan mengakibatkan murid mengalami kegagalan dalam belajar. Tentunya kita sebagai guru yang professional tidak ingin murid-muridnya terjerumus kedalam jurang kegagalan belajar. Peran gurulah yang mengarahkan anak didiknya untuk mengatasi masalah dalam belajarnya.

Peran dan Fungsi Guru dalam Mengatasi Masalah Belajar Murid di Sekolah Dasar.

Peran dan fungsi guru tidak hanya sebagai pengajar pelajar-pelajar yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, tetapi seorang guru itu harus menjadi ‘model’. Model disini diartikan bahwa guru itu digugu dan ditiru. Apa yang dilakukan guru akan ditiru oleh murid-muridnya. Oleh karena itu, agar menjadi seorang ‘model’ yang baik, seorang guru harus mencontohkan kepada murid-muridnya hal-hal yang baik. Selain itu, guru pun dapat menjadi motivator dan pemberi jalan bagi murid-murid untuk mencapai apa yang dicita-citakannya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Achmad MK (2009.10), secara lebih terperinci tugas guru berpusat pada :

1. Mendidik anak dengan titik berat memberikan arah dan motivasi pencapaian tujuan, baik jangka panjang maupun jangka pendek.

2. Memberi fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai.

3. Membantu perkembangan aspek-aspek pribadi seperti sikap, nilai-nilai dan penyesuaian diri.

Seorang guru mempunyai tanggung jawab sebagai penyampai ilmu-ilmu pengetahuan, namun tidak hanya itu, guru pun mempunyai tanggung jawab terhadap perkembangan diri anak dan memberikan fasilitas yang diperlukan muridnya. Hendaknya guru senantiasa menghantarkan jalan menuju cita-cita murid. Berusaha menimbulkan, meningkatkan, dan mempertahankan motivasi murid terus berkembang agar murid mengerti apa yang ia lakukan berdasarkan apa yang dicita-citakannya. Adapun hal-hal yang harus dilakukan kepada muridnya.

Menurut Achmad MK (2009.10), ada 4 hal yang dapat dikerjakan guru dalam memberikan motivasi, yaitu:

1. Membangkitkan dorongan kepada siswa untuk belajar.

2. Menjelaskan secara konkrit kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran.

3. Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai sehingga dapat merangsang untuk mencapai prestasi yang lebih baik di kemudian hari.

4. Membentuk kebiasaan belajar yang baik.

Guru memberikan semangat agar muridnya termotivasi belajar. Pelajaran yang disampaikan oleh guru haruslah dapat tersampaikan kepada muridnya secara jelas dan dapat dimengerti. Bila murid dirasa masih bingung terhadap pembelajaran, gurulah yang menjelaskan kembali dengan sabar sampai murid tersebut mengerti. Memberikan penghargaan pada murid dapat menambah motivasi dalam belajar, walau penghargaan hanya sebuah tepuk tangan dari guru dan teman-teman sekelas, namun bagi murid terutama bagi murid kelas rendah merasa dihargai atas kerja kerasnya. Dan itu dapat membuat murid untuk mau dan terus belajar. Pembelajaran dikelas pun harus dibuat senyaman mungkin, apalagi untuk kelas rendah yang belum dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dengan bernyanyi misalnya bila dirasa murid merasa suntuk dengan pembelajaran, atau mungkin dengan cara lainnya tergantung kreatifitas gurunya, karena mengajar itu adalah seni (Teaching of The Art). Dan denagn hubungan yang baik anatara guru dan murid dapat membuat suasana pembelajaran di kelas nyaman dan indah.

Sebagaimana dikatakan oleh Heil dan Washburne (1961.37) dalam Memahami Karakteristik Anak dalam Mengatasi Masalah Belajar Murid di SD (2009.10), “Hubungan guru dengan murid yang hangat, bersahabat, ramah, sabar, dan penuh tenggang rasa mempengaruhi cara anak membina hubungan dengan orang lain.”

Hubungan guru dengan muridnya dapat mempengaruhi cara belajar murid dalam menanggapi pelajaran yang disampaikan guru. Guru diharapkan dapat memiliki hubungan yang erat dengan murid. Guru yang diharapkan murid bagi murid SD adalah guru yang ramah, murah senyum dan gampang memberikan penghargaan. Dan guru yang dapat menambah masalah belajar adalah guru yang kurang ramah, jarang senyum, dan tak pernah member penghargaan pada kerja keras muridnya. Guru haruslah memperlakukan muridnya seperti anak kandungnya sendiri. Oleh karena itu, guru dikatakan sebagai orang tua disekolah, agar guru dapat menyayangi murid-muridnya sebagai anak-anak mereka sendiri.

Seorang guru dalam memecahkan permasalahan belajar murid di SD haruslah memahami karakteristik anak-anaknya. Meskipun permasalahan-permasalahan belajar cenderung kompleks. Guru yang kurang ramah terhadap murid, kurang menghargai dan kurang memberikan prestasi terhadap murid, dan kurang memperhatikan belajar murid, cenderung menurunkan bahkan mengikis motivasi belajar murid. Dari sinilah timbul permasalahan-permasalahan dalam belajar. Seorang guru yang diharapkan adalah seorang guru yang dapat menjadi motor motivasi, contoh yang baik, juga dapat memahami karakteristik murid-murid masing-masing yang berbeda-beda agar ia dapat menetukan sikap. Semoga dari uraian diatas, para guru dapat memahami perkembangan setiap murid, karena keberhasilan pembelajaran disekolah ditentukan oleh ketepatan pemahaman perkembangan anak, sebagaimana dijelaskan oleh Achmad MK (2009).

Referensi

MK, Achmad.2009.”Memahami karakteristik anak dalam anak di SD”[Online].Tersedia: http://one.indoskripsi.com// [22 Oktober 2009].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar