Kamis, 19 November 2009

MENGAPA ANAK PERLU DIDIDIK?

Nama : Emay Maelasari

NIM : 0902891

Jurusan : PEDAGOGIK(PGSD)

Kelas : 1-C

MENGAPA ANAK PERLU DIDIDIK?

Oleh :Emay Maelasari ( 0902891 )

Didalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.29 Tahun 2003 disebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.”

Dalam undang-undang pendidikan adalah usaha sadar dan berencana. Jadi, pendidikan harus terencana dengan baik agar peserta didik juga memilika kecerdasan, aktif mengembangkan potensi dirinya, dan kepribadian. Dengan pendidikan juga peserta pendidikan bisa mempunyai keterampilan yang diperlukan untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Tidak dapat disangsikan lagi, bahwa setiap manusia dilahirkan dari ibunya sejak dahulu kala hingga sekarang selalu membutuhkan bantuan dan pertolongan dari orang tua atau orang lain dalam berbagai hal. Berbagai bantuan dan pertolongan tersebut secara tidak langsung adanya upaya dari orang tua maupun lainnya (pendidik) untuk mendidik anak-anaknya, meskipun masih dengan cara sederhana.

Setiap makhluk hidup dilahirkan dengan memiliki bawaan alamiahnya sendiri-sendiri. Bawaan alamiah ini diturunkan dari orangtua pada diri anak masing-masing. Bukti nyata adalah dapat diamati pada saudara kembar yang telah dipisahkan sejak lahir dan diasuh oleh orangtua dan lingkungan berbeda. Ketika diteliti mereka memiliki kemiripan satu dengan yang lainnya mulai dari cara berjalan, tersenyum, mengambil keputusan dll. Inilah yang membuktikan bahwa ada sejumlah karakteristik yang dibawa oleh tiap manusia sejak ia lahir.

Menurut Psikolog Sandra Mungliadi M.Psi. , “Tugas orangtua adalah mengenali karakteristik alamiah yang telah dibawa anak-anak ini. Setelah mengenali, kita perlu untuk membentuknya/mengasuhnya sehingga sesuai dengan kecenderungan yang ada dalam diri si anak.”

Pendapat tadi menurut saya kesalahan mengenali bawaan alamiah ini yang sering menjadi penyebab terjadi kesalahpahaman antar anak dan orangtua. Anak merasa tidak dimengerti oleh orangtuanya sedangkan orangtua merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan anaknya karena berperilaku berbeda dengan harapan yang selama ini dimilikinya.

Mencius, seorang guru besar dalam sejarah Cina, orang kedua langsung setelah Konfusius, mengatakan: “Orang Bijak (gentleman) berpikiran, kalau saya menengadah ke langit saya tidak merasa bersalah kepadanya, pada saat saya melihat pada manusia saya tidak pernah merugikan dia, itulah sukacita pertama. Kedua, kalau ayah dan ibu masih ada, seluruh saudara belum ada yang meninggal, itulah sukacita kedua. Ketiga, ketika saya bisa mendapatkan orang-orang yang pandai di bawah kolong langit ini dan saya boleh mendidik mereka dengan baik, itulah sukacita yang ketiga.”

Menurut butir ketiga dari pikiran Mencius jika kita mendapatkan orang-orang yang bodoh, malas, nakal, maka kita akan sangat susah. Tetapi jika kita bisa mendapatkan anak-anak yang pandai, yang rajin, yang hebat, tetapi yang rendah hati, kemudian kita dengan waktu yang relatif pendek dapat memberikan hasil yang sangat besar. Ini menjadi suatu hal yang memberikan sukacita yang luar biasa. Ada suatu ketidakadilan di dalam pendidikan ketika orang pandai dididik oleh guru yang bodoh, dan guru-guru yang pandai mendapatkan murid-murid yang sangat bodoh. Ini dua hal yang sangat tidak seimbang. Jika seorang murid yang sangat pandai, cerdas dan berpikiran tajam, tetapi mendapatkan guru-guru yang bodoh, maka ia memerlukan kesabaran yang luar biasa untuk ia dapat hidup baik-baik di dunia ini. Ketika murid-murid itu berpikiran tajam, gurunya bodoh, ini merupakan siksaan jiwa dari seorang "arsitek jiwa" yang tidak memiliki "ijin arsitek."

Murid yang baik perlu mendapatkan guru yang bisa merangsang, membentuk dan menjadikan dia murid yang sukses. Tetapi bagaimana mengirim murid itu kepada guru yang memadai merupakan hal yang tidak mudah. Demikian juga bagaimana guru yang baik bisa menemukan murid yang betul-betul bisa dididik dengan baik, juga merupakan hal yang sangat penting. Di dalam sistem pendidikan, guru yang baik seharusnya mendapatkan murid-murid yang baik, dan murid-murid yang baik itu bisa memakai waktu yang sedikit untuk mendapatkan penyaluran kebenaran yang banyak dari gurunya.

Dalam mendidik anak, maka segala usaha ditujukan terhadap perkembangan anaknya. Seperti seorang ibu selalu menyiapkan makanan dan minuman untuk anggota keluarganya, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Begitu juga seorang ayah yang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Dengan demikian apa yang dikerjakan oleh kedua orang tuanya secara tidak langsung membantu pertumbuhan anaknya. Akan tetapi pada kenyataannya, perkembangan anak tidak selalu cocok dengan apa yang diharapkan oleh orang tuanya. Misalnya anak-anaknya sejak kecil sudah memperoleh kesempatan sekolah sampai dapat menyelesaikan ke jenjang yang lebih tinggi, akan tetapi setelah menyelesaikan pendidikan formalnya dia belum memperoleh pekerjaan sesuai dengan harapan.

Berbagai hal yang mempengaruhi anak, baik secara langsung atau tidak langsung dan dilakukan secara sadar maupun tidak sadar merupakan sebuah proses pendidikan. Hal inilah yang melatarbelakangi mengapa anak membutuhkan suatu pemahaman untuk kelangsungan pendidikannya. Sebagai pendidik ataupun lembaga pendidikan harus sadar dan tanggap dari perilaku anak atau anak didik itu sendiri

Anak bagaikan kertas putih yang bersih tanpa noda dan polos. Seorang anak pasti harus dididik agar ia tumbuh menjadi manusia yang berpendidikan, mengembangkan potensi yang ia miliki, serta bisa berkepribadian. Orang tua harus bersikap baik atau memberikan contoh perbuatan baik dan benar sesuai dengan etika, moral dan agama. Karena anak belum mengetahui mana yang baik dan buruk sehingga anak mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Jadi, anak sangatlah perlu untuk dididik agar ia mempunyai potensi, kepribadian, pintar, bisa bersosialisasi dengan masyarakat atau temannya dan mempunyai sikap dan sifat yang baik

Anak hanya bisa meniru apa yang dilihatnya di lingkungan sekitarnya. Ketika anak melihat perbuatan kedua orang tuanya pasti ia akan meniru perbuatan tersebut. Jadi, sikap seorang anak tergantung juga kepada orang tua. Meskipun ada faktor lain selain orang tua seperti lingkungan,sekolah dan teman, tapi peran orang tua sangatlah besar karena waktu seorang anak lebih banyak dihabiskan di rumah bersama keluarganya.

Bayangkan jika seorang anak tidak mendapatkan pendidikan atau tidak di didik!Bagaimana sikap dan sifat anak tersebut di masa yang akan datang?Pastilah sikap dan sifatnya kurang baik. Contohnya mungkin dia melawan kepada orang tuanya,bersikap kurang baik dengan teman-temannya, tidak sopan dalam bersikap, dan seperti anak yang tidak mempunyai kepribadian serta tidak bisa mengembangkan potensi yang ia miliki

Anak perlu di didik tidak hanya di sekolah oleh gurunya karena sekolah hanyalah sarana pengembangan potensi diri serta sebagai tempat bersosialisasi dengan temannya.

Sadar atau tidak memang kehadiran guru dikelas dapat memberikan pengaruh tehadap perkembangan anak dalam penghayatan nilai kehidupan, motivasi belajar dan bersikap positif terhadap pembelajaran.jadi secara tidak langsung sekolah juga mempunyai peran penting. Guru sebagai pengganti orang tua di sekolah harus memberikan perhatian kepada anak didik dan anggaplah seperti anak sendiri. Jika ada seorang anak yang terlihat kurang bersosialisasi dengan temannya atau kurang dalam pelajaran lakukanlah pendekatan yang lebih pribadi untuk mengetahui apa sebab anak tersebut seperti itu. Lalu, selesaikan masalah itu bersama anak.

Lingkungan sekitar juga mempengaruhi kepribadian anak.Agama mempunyai peran yang penting juga dalam kepribadian anak karena melalui agama anak akan mengetahui tentang akhlak yang sesuai dengan kaidah keagamaan. Dalam agama juga anak di didik untuk berakhlak mulia dan mempunyai moral yang baik. Serta anak akan mempunyai iman yang kuat dalam beragama.

Orang tua berikanlah motivasi belajar anak, contohnya bantulah anak dalam mengerjakan pekerjaan rumah atau bisa saja memberikan hadiah jika anak mendapat nilai yang bagus. Tapi jika anak mandapatkan nilai yang kurang janganlah memarahinya tapi berikan motivasi untuk lebih baik dan giat belajar.

Jika anak mendapatkan perhatian ia akan merasa senang dan bersemangat dalam belajar. Setiap malam saat berkumpul bersama keluarga ajaklah anak untuk bercerita apa saja yang ia lakukan pada hari itu dan tanyakan apa ada kejadian atau apa saja yang membuat anak berkesan di hari itu. Temanilah anak dalam mengerjakan pekerjaan rumah dan bimbinglah anak jika ia tidak mengerti.

Berikanlah dongeng atau cerita sebelum tidur agar anak bisa dididik untuk berimajinasi. Dengan imajinasi anak bisa lebih mengembangkan pikirannya.

Menurut Erikson (Syamsudin, 2000 : 271)”Pola pendidikan anak bisa berubah sesuai dengan perkembangan usianya.”

a. Pada masa kecil anak-anak didisiplin dengan instruksi, perintah langsung. Hal ini untuk anak-anak usia 0 ataui 1 tahun sampai usia sekitar 10 tahun.

b. Pada anak-anak yang memasuki usia remaja yaitu usia 11 tahun hingga usia 17, 18 tahun didisiplin dengan cara direksi atau petunjuk, pengarahan.”

Melihat pendapat tadi mendidik anak juga disesuaikan dengan umur anak. Perkembangan menjadi dasar utama dalam menghadapi perkembangan anak

Anak mempunyai keunikan masing-masing, ada anak yang cenderung penurut dan ada anak yang cenderung membangkang, keras kepala. Untuk anak yang mempunyai kemauan keras cenderung susah sekali untuk dididik dengan kekerasan. Jadi kuncinya adalah

1. Kita harus didik dia dengan lemah lembut. Dengan lemah lembut artinya anak-anak ini cenderung lebih mendengarkan instruksi.

2. Harus jelas, jelas dalam pengertian si anak tahu kalau dia membangkang dia akan mendapatkan sanksi.

3. Harus konsisten, artinya kalau kita sudah katakan kita akan hukum, kita akan hukum dia. Kalau kita sudah katakan dia boleh pergi, ya dia boleh pergi.

Anak adalah titipan yang diberikan Allah SWT kepada kedua orang tuanya yang harus dididik dan dirawat dengan baik. Orang tua yang bertanggung jawab adalah orang tua yang selalu memberikan hak anak dengan cara yang paling baik.

Untuk itu, apabila orang tua ingin memiliki anak yang soleh, baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya maka berikanlah apa yang menjadi haknya. Dengan demikian, ia akan melakukan apa yang menjadi kewajibannya (melakukan sesuatu sesuai dengan harapan orang tua

Dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya orang tua maupun anggota keluarga yang lain ( pendidik ) memberikan bimbingan terhadap anak-anaknya dalam keluarga akan hidup dan kehidupan, baik sedang dialami kelak akan dihadapi. Dengan demikian, peran orang tua, anggota keluarga, pendidik / guru dan anggota masyarakat sangat besar terhadap pembentukan pengetahuan, wawasan, ketrampilan, sikap dan kepribadian anan didik.

Oleh karena itu, disarankan kepada para pendidik baik itu orang tua atau guru agar lebih mengerti tentang karakteristik dan sifat yang ada pada diri seorang anak atau anak didik tanpa menambah beban kepada mereka berupa pemikiran yang masih jauh dengan kondisi usianya dan psikologisnya.

Tanpa pendidikan anak tidak akan menjadi seseorang yang lebih baik dan mungkin tidak bisa berguna bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.

Referensi

Undang-undang No . 23 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Hasbullah.1996. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan.Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

Romlah, M.Ag, Dra.2004. Psikologi Pendidikan.Malang:UMM Press

http://novia27.wordpress.com/2008/06/25/perkembangan-peserta-didik/

(23 oktober 2009)

Rakhmat, Cece M.Pd. Dr. H, Nandang budiman, S.Pd, M.Si, dan Dra. Nenden Ineu Rahmawati, M.Pd. (2006). Psikologi Pendidikan. Bandung: UPI PRESS

http://www.sekolahorangtua.com/2009/08/07/proses-

pendidikan-anak-merupakan-bentukan-dari-lingkungan-atau-bawaan-alamiah-bagian-1/

(23 oktober 2009)

http://lead.sabda.org/murid_murid_yang_bisa_dididik

(23 oktober 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar